Prolog
Ini Indonesiaku
Ketika Mereka tercabik Pecut
Terancam Pancung, Tergilas Nafsu Majikan
Sedang Kita Terbahak Muak
Inilah Negeriku
Ketika Nutfah Mengisi Rahim Buncit
Menangis Ditindih Tuan Tak Berperasaan
Sedang Kita Bersolek Elok
Mulut Ini Peluh membisu
Bilik Jantung Ini Sejenak Tak memompa
Sebab Pilu Tanpa Berbuat
Sedang Guncangan Hati Tak Gerakkan Iman
Saatnya Hirup Asa Mereka
Bayarkan Hutang Moral Ini
Dengan Keangkuhan Tekad
Kita Tuntaskan Perubahan
(Fajar Sidik, Lampung 2008)
Lirih kutangisi. Putri negeri timur tercabik keangkuhan tuannya. Label hitam setrika, anyir kulit terebus dan kombinasi pukulan sang majikan, trauma pahit yang tercatat dan tak terlupakan. Wahai dayang timur, kepahitan itu harusnya terbayarkan dan harus dibayar tuan nyonyamu. Terlaranglah, keperihan Nirmala Bonat terulang.
Tulisan ini ekspresi kepedihan tak tertunaikan, kegeraman terpendam dan nurani yang haus keadilan. Mereka, Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia, terhina dan dihinakan negeri seberang. Padahal, penistaan terhadap pahlawan devisa, turut pula mencoreng martabat kita sebagai bangsa. Apalagi, masih banyak nirmala-nirmala lainnya yang belum terungkap atau sengaja tidak diungkap.
Berharap pada negara tentu sulit. Bukan karena enggan berbuat, tapi kemampuan yang terbatasi. Wajarlah jika birokrat beralibi, terlalu banyak masalah negara ini yang harus diselesaikan. Dan mustahil pemerintah menjangkau semuanya. Kuno memang, tapi fakta ini memang terjadi dinegeri ini. mengurus kenaikan harga minyak dunia saja kelabakan. Belum lagi masalah korupsi yang menggurita, birokrasi njlimet, kemiskinan hingga keterbelakangan pendidikan. Tentu energi pemerintah tak mencukupi mengatasi seluruhnya.
Peran intelektual muda, akademisi dan kalangan professional dibutuhkan sebagai gensetnya pemerintah. Bukan mengalihkan tanggung jawab, tapi mengajak seluruh elemen bekerja demi kebaikan bersama. Karena, maju mundurnya Indonesia, ditangan kita semua.
Statistik Pendulang Devisa
Departemen tenaga kerja dan transmigrasi (Depnakertrans) mencatat, jutaan WNI hijrah kenegara lain untuk mengais rezeki. Untuk negara-negara timur tengah dan afrika saja, tahun lalu terdata hampir seperempat juta. Belum ditambah dengan TKI di negara-negara tetangga seperti malaysia, singapura dan Brunai. Ataupun negara asia lainnya seperti Jepang, Korea, China hingga daratan Eropa. Sedangkan untuk Malaysia saja jumlah TKI nyaris menembus angka satu juta jiwa.
Data Depnakertrans : Penempatan TKI Kawasan Timur Tengah & Afrika – Negara Tujuan, 2007
| NO | NEGARA TUJUAN | JUMLAH |
| 1 | Saudi Arabia | 186.715 |
| 2 | UEA/Abu Dhabi | 19.578 |
| 3 | Kuwait | 18.610 |
| 4 | Bahrain | 1.465 |
| 5 | Qatar | 7.302 |
| 6 | Oman | 4.923 |
| 7 | Yordania | 10.256 |
| 8 | Yaman | 24 |
| 9 | Afrika | 76 |
| 10 | Lain-lain | 98 |
| Total | 249.047 |
Penempatan TKI Kawasan Timur Tengah – Sektor, 2006
| NO | NEGARA TUJUAN | JUMLAH |
| 1 | Sektor Formal | 177.568 |
| 2 | Sektor Non-Formal | 502.432 |
| Jumlah | 680.000 |
Data yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan bahwa hampir 80 persen TKI yang dikirim adalah TKW yang tidak terdidik dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) atau sektor non-formal lainnya. Di Singapura, hampir 100 % TKI yang bekerja sana adalah adalah TKW. Sedangkan untuk Arab Saudi dan Hongkong masing-masing 93 % dan 94 %. Khusus negara-negara timur tengah, TKI yang bekerja disektor non-formal (PRT) persentasenya lebih kecil yaitu sekitar 73 % atau 502.432 jiwa dari total TKI yang mencapai 680.000. Sedangkan sisanya bekerja disektor formal, khususnya bidang kesehatan. Meski penelitian ini dilakukan tahun 2006 silam, dipastikan tidak jauh berbeda dengan kondisi saat ini. Hal ini dikarenakan kondisi perekonomian Indonesia yang jalan ditempat bahkan cenderung mundur. sehingga, peluang meraih pekerjaan didalam negeri relative semakin sempit.
Menggebunya penduduk Indonesia untuk mengadu nasib dinegeri orang disebabkan tidak stabilnya perekonomian Indonesia. Ditambah dengan berbagai kisah sukses beberapa TKI, maka semakin bergairahlah rakyat negeri ini untuk merantau. Sampai-sampai, beberapa WNI ikhlas menjadi tentara perbatasan Malaysia atau yang disebut Askar Wathaniah. Padahal, sangat mungkin penduduk negeri ini (TNI vs Askar Wathaniah) saling bunuh atas nama profesionalisme kerja.
Pastinya, selama perekonomian Indonesia mengalami stagnasi, maka akan semakin kuat tekad para pemburu dolar untuk plesir kenegeri orang. Petak-petak sawah, hamparan kebun, puluhan empang hingga sebidang rumah, Mereka gadaikan agar bisa menjadi TKI. Akibatnya, tak jarang dari Mereka tertipu segelintir oknum yang mengaku mampu memuluskan niatnya. Akhirnya, harta terkuras dan asa pun tak tertambatkan. Bahkan tak sedikit pula yang mengalami nasib lebih parah lagi dimana para TKW justru dipaksa menjual selangkangannya kepada pribumi sana. Jadi, semakin lengkaplah penderitaan para pemburu dolar.
Mereka Yang Terasing Bersama Nasib
Nasib para TKI memang sungguh nelongso. Secara jujur harus diakui bahwa persoalan yang timbul pada sosok pahlawan devisa kita, tidak terlepas dari dosa-dosa pemerintah. Kesalahan tersebut antara lain kurangnya perhatian, perlindungan dan pembinaan terhadap mereka (TKI). Bahkan selama ini, negara cenderung hanya sebagai lembaga stempel dan pemalak resmi. Padahal jika terjadi pelanggaran ketenagakerjaan terhadap Mereka, pemerintah bersikap acuh tak acuh. Bagaimana keberadaan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) ? Sebagai lembaga resmi yang berada langsung di bawah Presiden, BNP2TKI sama sekali belum menunjukkan taringnya.
TKI ibarat pahlawan yang ternistakan. Meskipun negara mendulang devisa besar, nasib mereka tetap memilukan. Masih lekat dibatin kita kepedihan yang dialami Nirmala bonat atas prilaku bejat majikannya. Atau kriminalisasi besar-besaran terhadap TKI illegal oleh pemerintah Malaysia yang disertai perlakuan-perlakuan tidak manusiawi. Teranyar adalah TKI asal Karawang bernama Karsih yang terancam hukuman mati di Brunai. Banyak nyawa penyelamat keuangan negara ini melayang dan terancam ditali gantungan. Catatan Migrant Care, Tahun 2005 lalu, 5 TKW terancam hukuman mati di singapura. Masih ditahun yang sama, 15 TKI mengalami hal serupa di Malaysia. Berlanjut ditahun 2006, sekitar 53 TKW asal Aceh mendapat giliran terancam gantungan. Bagaimana peran negara ? hanya sedikit sekali melakukan diplomasi. Pemerintah lebih banyak meneteskan air mata belasungkawa dibandingkan keringat mengadvokasi. Hal ini memang sangat kontras dengan infak besar Mereka kepada bangsa ini. Sesungguhnya, Mereka tetap terasing bersama nasibnya.
Philip Bowring dalam tulisannya di International Herald Tribune (30/11/07) menjuluki Indonesia sebagai raksasa siluman Asia Tenggara. Disebut raksasa siluman, karena menurutnya, sudut pandang Indonesia terhadap dunia internasional adalah luar biasa rendah, didukung pula oleh politikus-politikus yang lebih banyak melihat ke dalam. Sehingga minim sekali pemimpin negeri ini yang berani mengambil peran di panggung internasional. Pernyataan Browring ini benar-benar menggambarkan situasi Indonesia yang krisis kepemimpinan nasional. Karenanya wajarlah jika posisi tawar Indonesia dimata internasional sangat rendah. Sehingga, jalur-jalur diplomasi yang digunakan, termasuk menangani masalah TKI, kurang dirasakan hasilnya.
Seharusnya kita meniru Filipina. Arroyo berhasil menaikkan harkat negaranya ketika Tenaga kerja mereka memperolah imbal jasa yang tidak setimpal dari Arab saudi. Beliau mengambil tindakan tegas dengan menghentikan pengiriman tenaga kerjanya. Bahkan kemudian, Arroyo menarik ribuan tenaga kerja Filipina dari Saudi yang bekerja sebagai dokter, juru rawat, dan profesi lainnya. Langkah politiknya ini berhasil. Akhirnya, pemerintah Arab Saudi menurunkan egonya untuk berunding dengan Pemerintah Filipina. Mungkinkah Indonesia melakukan hal serupa ? semua ini tergantung politik pemerintah negeri ini.
Membentuk Gerakkan Advokasi Massal
Berharap kepada pemerintah tentu sulit. Terlebih lagi bangsa ini tengah menghadapi ancaman krisis global. Sehingga, kecil kemungkinan negara bisa fokus melindungi para TKI. Untuk itu, dibutuhkan elemen swasta untuk menyelamatkan Mereka dari penistaan, penyiksaan dan berbagai ketidakadilan lainnya. Mengapa kita harus ikut serta ? padahal semua itu tanggung jawab negara, bukan ? Desmond Tutu berujar, “Jika Anda bersikap netral dalam situasi ketidakadilan, maka Anda telah berpihak pada sang penindas. Jika seekor gajah menginjak ekor tikus dan Anda mengatakan bahwa Anda netral, maka sang tikus tidak akan pernah menghargai netralitas Anda.” Inilah alasan mengapa mahasiswa, professional dan seluruh WNI, khususnya yang tinggal diluar negeri, wajib bergerak.
Salah satu lembaga yang berhasil memperjuangkan nasib TKI adalah Migrant Care. Meski baru berusia empat tahun, lembaga ini berhasil membentuk jejaring advokasi TKI di berbagai negara. Diantaranya Country Representatif di Malaysia, jaringan Asian Migrant Center (AMC), IMWU (Indonesian Migrant Workers Union) dan Asosiasi TKI yang berbasis di Hong Kong. Di Singapura dan Taiwan ada IndoFamily dan TIMWA (Taiwan Indonesian Migran Workers Assosiation). Lembaga-lemabaga ini bergerak sebagai kelompok penekan (pressure group) untuk mendukung langkah-langkah advokasi yang dilakukan pemerintah. Bagaimana dengan WNI lainnya ?
Dalam agama apapun, ketidakadilan pasti ditolak. Termasuk bagi mereka yang mengklaim atheis sekalipun. Karena, nilai-nilai universal memang tumbuh dari kesucian nurani manusia. Islam mendendangkan perjuangannya ini dalam salah satu hadist shahihnya dimana seluruh umat diminta melawan ketidakadilan dengan perbuatan, lisan dan hati. Karena berkata kebenaran kepada pemimpin yang dzalim adalah perjuangan yang sangat dihargai dien ini.
Gerakan advokasi terhadap para TKI sudah dijalankan oleh NGo semacam Migrant Care. Tapi, mampukah lembaga ini mengurusi jutaan TKI yang bertebaran diseluruh dunia. Karenanya, alangkah baik para mahasiswa dan pekerja professional yang menetap pada suatu negara, mengambil langkah serupa. Dan karena korban tindak criminal majikan mayoritas adalah TKW, tanpa maksud mengenyampingkan peran laki-laki, lebih bijak jika mayoritas pekerja advokasi dihuni kaum perempuan.
Posisi tawar mahasiswa dan pekerja profesiaonal, tentu sangat baik dihadapan negara manapun. Selain karena intelektualitasnya, Mereka juga memiliki kemahiran melakukan diplomasi. Sejarah telah mencatat keberhasilan pelajar di luar negeri dalam mendorong deklarasi kemerdekaan Indonesia. Semacam itulah kelak gerakan ini diarahkan.
Para mahasiswa dan pekerja professional perempuan selayaknya segera melembagakan gerakannya. Hal ini penting untuk mendapatkan legalisasi gerakan dari negara yang dihuni. Dengan adanya legalitas lembaga, maka aktivis perempuan (muslimah) yang tergabung dalam kaukus perempuan tersebut, lebih terjamin keberlangsungannya karena bukan organisasi sempalan atau mungkin bisa saja dianggap makar.
Sebagai lembaga advokasi TKI, peranan yang ditonjolkan tentu berkaitan dengan upaya pencegahan dan penanggulangan tindak kekerasan terhadap Mereka. Langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah kampanye anti kekerasan terhadap pekerja, lobi/negosiasi kebijakan ketenagakerjaan, hingga pendidikan advokasi mandiri terhadap TKI, lebih khusus lagi TKW. Hal ini penting dilakukan agar tercipta kesadaran massal bahwa mereka (TKW) juga manusia yang memiliki hak asasi yang sama seperti lainnya.
Sedangkan untuk upaya penanggulangan, paling tepat adalah melakukan langkah-langkah hukum sesuai konstitusi negara bersangkutan. Harapannya, langkah hukum ini dapat menimbulkan efek jera terhadap majikan yang berbuat sewenang-wenang terhadap pekerjanya. Mulai dari pendampingan, memberikan pelayanan hukum hingga pemulihan mental korban. Program-program demikian diharapkan dapat melindungi hak-hak para TKI, termasuk upaya represif berupa pemulihan psikis dan psikologis terhadap TKW korban penganiayaan. Mungkinkah kerja-kerja ini dilakukan perempuan (Muslimah) Indonesia yang diluar negeri ? Harus disadari, setetes darah, keringat, dan materi yang terkuras untuk melawan kedzaliman, akan ditukar dengan surga milik-Nya. Dan inilah perdagangan yang manusia tidak akan pernah rugi.
Epilog
Di belahan dunia manapun, perempuan berperan penting dalam membangun peradaban. Dibelakang kesuksesan Rasulullah, Muhammad SAW, dalam mengislamkan dunia, berdiri seorang Khadijah yang menumpahkan harta dan jiwanya untuk perang suci tersebut. Begitupun pemimpin termasyur negeri ini, Jendral Soedirman, Soekarno, Muhammad hatta hingga Hidayat Nurwahid kini, berdiri tegar perempuan-perempuan bermental baja. Dalam himpitan kerja-kerja tak terbatas, Mereka menjadi embun di padang yang gersang. Jika kita sudah sadar akan hal ini, masihkah Mereka dianggap manusia komplementer yang hanya berurusan dengan dapur dan kasur ?
Di hadapan Khalik, tidak ada yang lebih unggul selain karena ketakwaannya. Karena itu, manifestasi terbesar kaum perempuan adalah ikut serta dalam melakukan gerakan-gerakan pembaharuan. Tentu tanpa melupakan tugas-tugasnya sebagai seorang Ibu dan suami. Karena, tokoh-tokoh dunia hebat dilahirkan dan terdidik oleh perempuan.
TKI merupakan serpihan kecil dari negeri ini yang tercecer. Mereka akrab dengan kekerasan, kriminalitas hingga pelanggaran HAM. Tapi, pernahkah mereka mengeluh. Lisan mereka telah peluh mencaci kejamnya sang majikan. Hanya nurani yang berteriak kencang dan mengguncang jiwa-jiwa yang haus keadilan. Akankah panggilan suci ini kita hempaskan. Kini saatnyalah para muslimah menunjukkan eksistensinya sebagai mahluk tuhan yang mampu berbuat bagi kaum-kaum marginal. Tugas-tugas sebagai penjaga dien dari isu-isu terorisme dan lain sebagainya, kurang seksi bagi Mereka yang jiwanya teraniaya. Kalimat-kalimat persuasif untuk berislam secara syumul, tidak akan mengetuk batin-batin yang butuh belaian pertolongan. Sama seperti memberikan sebakul nasi kepada orang yang butuh setetes air dipadang pasir. Dan kini saatnya, dzikir kita menjadi dzikir sosial. Dari Bandarlampung untuk kejayaan islam dunia.
Tulisan 2008