Posted on: April 27, 2020 Posted by: Faik Comments: 0

Hasil penelitian UNESCO tahun 2012 menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia yang hanya bernilai 0,001 (Dari 1000 orang penduduk, hanya satu orang yang gemar membaca). Kemudian pada Maret 2016, Most Literate Nations in the Worldmerilis pemeringkatan literasi internasional yang menempatkan Indonesia berada di urutan ke-60 di antara total 61 negara. Kondisi yang sama juga terjadi pada pemeringkatan tingkat pendidikan Indonesia di dunia yang memang dari tahun ke tahun belum beranjak dari papan bawah dalam berbagai survei internasional. Salah satunya World Education Forum di bawah naungan PBB menempatkan Indonesia di posisi 69 dari 76 negara.

Miris. Itulah fakta minat baca bangsa kita. Negara yang memiliki limpahan karunia tak terhingga, namun terpuruk dalam hal kecintaan membaca. Aahhh…. luka bangsa ini akan semakin panjang menganga. Jika anak-anak muda, siswa dan seluruh elemen bangsa, meninggalkan jendela dunia. Padahal, dari buku, mereka memiliki bayangan tentang seluruh dunia. Bahkan pelosok bumi yang sekalipun tidak pernah mereka injakkan kaki. Inilah kemuliaan membaca. Seperti pesan Illahi pada salah satu ayat nya “Iqro”. Baca nak, bacalah! Dengan menyebut tuhanmu yang maha tinggi.

Membangun dunia literasi bukanlah hal mudah. Makin diperparah dengan kehadiran gadget yang menawarkan segala kenikmatan instan. Ahhh…. seperti tidak ada peluang lagi bukan?

Menyerah bukanlah pilihan para pejuang. Menyerah hanya untuk mereka yang berputus asa pada keberadaan Tuhan. Menyerah hanya mendekap jiwa yang lelah pada berkah. Menyerah hanya sikap kerdil yang mendahulukan keputusasaan dibandingkan perbuatan

Hari ini, kebangkitan literasi efektif bangkit dari sekolah, khususnya Sekolah Dasar. Segenap elemen pendidik, perlu menyatukan langkah dan menyusun gerakan membangkitkan literasi sekolah. Dari gedung-gedung sekolah, dari suara-suara siswa, literasi di Indonesia akan membahana. Membungkam data-data hari ini yang belum bersahabat dengan kita. Memang itu butuh kerja keras, butuh kerja bersama yang efektif dan terukur. Banyak hal yang dapat dilakukan di sekolah, diantaranya sebagai berikut:

  1. Gerakan 10 menit membaca di awal waktu sekolah

Gerakan ini menjadi tonggak awal agar siswa SD mencintai membaca. Untuk membunuh kejenuhan, maka buku yang dibaca dapat disesuaikan dengan minat dan kesukaan siswa. Lebih khusus, jangan pernah membaca buku pelajaran karena akan membentuk image bahwa gerakan membaca ini bagian dari pelajaran.

Gerakan ini pada dasarnya merupakan tahapan pembiasaan membaca. Sehingga yang paling penting pada tahap ini adalah siswa memiliki kebiasaan baru yang disukai yakni membaca. Agar lebih disukai, sesekali guru-guru memimpin membaca bersama selayaknya mendongeng untuk membangkitkan antusiasme siswa. Bisa juga sekolah bekerjasama dengan rumah-rumah baca untuk mendirikan kantin membaca dimana anak-anak dapat membaca sambil ngemil.

Pada prinsipnya, ubah persepsi siswa bahwa membaca itu hal yang membosankan. Ganti dengan persepsi baru bahwa membaca itu asyik, nikmat dan menyenangkan.

  1. Pohon Buku

Konsep ini mengambil dari konsep pohon sedekah dimana mereka yang telah bersedekah akan mendapatkan satu daun dan ditempelkan pada ranting pohon. Semakin rimbun pohon, berarti semakin subur sedekah

Begitupun dengan Pohon buku. Siswa-siswa SD dirangsang untuk masuk pada tahap berikutnya yakni mencintai membaca. Siswa yang telah membaca buku diminta untuk menulis judul buku yang dibacanya beserta sinopsis singkat. Semakin rimbun pohon, semakin subur minat baca siswa.

Agar lebih menarik, maka antar kelas di sekolah memiliki pohon bukunya masing masing, ditetapkan pimpinan kelas untuk kemudian menyusun strategi merimbunkan pohon buku dikelasnya. Pada setiap pekan, guru-guru menjadi juri yang menilai pohon yang paling rimbun dan mendapatkan reward berupa ”Pin Prioritas” dimana siswa-siswa yang mendapatkan pin tersebut dapat meminjam buku-buku perpustakaan lebih lama dan lebih banyak dibandingkan siswa lainnya

Kompetisi ini diharapkan dapat meningkatkan minat baca siswa sehingga waktu-waktu menunggu kelas atau istirahat sambil mengudap makanan, dapat diisi dengan membaca dan membaca. Ahh indahnya….

  1. Sinergi dengan kegiatan ekstrakurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler siswa SD dapat dioptimalkan dengan aktivitas membaca. Misalkan, lacak jejak pramuka dapat diisi dengan membaca buku-buku tumbuhan untuk kemudian siswa diberi tugas mencari sebanyak mungkin tumbuhan yang ada dialam sekitarnya. Aktivitas ini akan membuat siswa lebih bersemangat membaca karena diberi challenge untuk mencari hal-hal yang dibacanya dialam secara nyata. Dengan reward tertentu yang menyenangkan, maka kompetisi ini akan lebih menarik dan menyenangkan

Selain itu, kegiatan lainnya seperti bela diri, maka siswa diminta membaca jurus-jurus terkait, mempraktekkannya dan diperbaiki secara teknis oleh pelatih. Semua aktivitas ekstrakurikuler siswa dapat menjadi sarana membaca yang asyik dan menyenangkan. Mereka tidak merasa membaca karena aktivitas intinya justru berupa kegiatan terkait.

  1. Hukuman-hukuman mendidik yang disesuaikan dengan konsep peningkatan literasi

Sekolah bukan hanya sarana belajar meningkatkan ilmu pengetahuan siswa, tapi juga untuk melatih kedisiplinan dan jiwa sosial siswa. Oleh karena itu, pelanggaran atas kedisiplinan yang telah ditetapkan sekolah, dapat diberlakukan hukuman-hukuman tertentu. lebih lanjut, hukuman-hukuman terhadap pelanggaran tersebut, dapat disesuaikan dengan tujuan penguatan literasi sekolah.

Oleh karena itu, siswa-siswa yang terlambat masuk sekolah, atau lupa mengerjakan tugas dan pelanggaran terhadap kedisplinan lainnya, dapat diberi hukuman dengan membaca buku dan menceritakan buku yang dibacanya dihadapan kelas. Selain mendidik, hukuman ini akan meningkatkan minat baca dan pengetahuan siswa, termasuk siswa lainnya.

  1. Desain Ceria Perpusatakaan

Tanya siswa bagaimana pendapatnya tentang perpustakaan? Gelap, tempat yang tidak asyik, membuat jenuh dan sebagainya. Seandainya perpustakaan disulap menjadi tempat yang ceria, enak dilihat dan menyenangkan, maka akan banyak siswa yang mengunjungi perpustakaan. Dan ini akan mendukung terwujudnya gerakan literasi di sekolah.

  1. Angka Kredit Membaca Buku

Ini menjadi opsional aktivitas peningkatan minat baca siswa. Mempersyaratkan jumlah buku yang dibaca oleh siswa sebagai prasyarat naik kelas atau salah satu pertimbangan pemilihan siswa berprestasi. Hal ini akan mendorong siswa untuk memenuhi angka kredit tersebut dengan mengisi waktu-waktu luangnya dengan membaca. Tentunya, yang perlu juga dipertimbangkan bahwa beban membaca tersebut tidak menghabiskan waktu mereka untuk bermain dan bersosialisasi.

  1. Proyek Membaca Bersama Orang Tua

Proyek bersama orang tua ini dapat berupa kegiatan membeli buku bersama, mengunjungi perpustakaan bersama, taupun membaca dan saling menceritakan isinya. Sekolah memang menjadi sarana belajar siswa, namun tanpa dukungan ornag tua dirumah, maka cita-cita terwujudnya geliat literasi disekolah hanya akan menjadi mimpi belaka. Oleh karena itu, orang tua perlu menjadi pendamping utama dalam meningkatkan minat baca anak-anaknya. Aktivitas-aktivitas bersama seyogyanya dapat dioptimalkan dengan aktivitas membaca. Tentu tidak seluruh waktu, hanya sebagian kecil saja. Dukungan orang tua, komitmen sekolah, kerja keras guru-gur dan lingkungan sosial yang mendukung, akan semakin mendorong geliat literasi di sekolah.

Hal-hal diatas dapat dijalankan oleh sleuruh sekolah-sekolah di Indonesia. Harapannya, literasi sekolah akan terwujud dalam 2-3 tahun kedepan dan akan menjadi budaya yang berkelanjutan bahkan menjadi bagian dari karakter siswa dimanapun. Selamat mencoba!

 

Terbit : http://duajurai.co/2017/12/19/opini-fajar-sidik-strategi-menggeliatkan-literasi-di-sekolah/

Leave a Comment