Posted on: April 17, 2020 Posted by: Faik Comments: 0

Lalu Asya pun berlari, menjingkrak jingkrakan kakinya sambil berseru

“Ayo….. Bundaku beli buku-buku baguusss. Ayo ke rumah baca”,” serunya riang

Tidak sampai 2 jam, 20 buku yang dibeli hasil dari donasi dermawan, ludes tak bersisa. Nampak beberapa kali dalam sunyi nya membaca, Asya dan teman-teman saling bertukar buku, tersenyum, menikmati sekali membaca di Rumaqh Baca Andalusia, Wilayah Tambun Bekasi

Sementara itu di kota lain, nampak kerumunan anak-anak berseragam kuning , berjalan dalam barusan teratur. Mereka, siswa PAUD RW 2 Manukan Kulon, nampak bersemangat dengan field trip hari ini berupa kunjungan ke Rumah Baca Andalusia , Manukan Kulon, Surabaya.

Hari itu, undangan parenting skill bagi orang tua siswa, telah tersiar melalui bunda PAUD setempat. Mengambil tema  ”Optimalisasi tumbuh kembang dan kreativitas anak” acara tersebut nampak meriah diikuti 20an anak beserta orang tuanya masing-masing. Sesaat setelah memberikan pemahaman pentingnya optimalisasi  pertumbuhan anak usia dini sebagai input bagi orang tua dalam mendidik anak-anaknya, agenda dilanjutkan dengan aktivitas bersama antara orang tua dengan anak-anaknya.

Selain membaca bersama, juga diselingi pembacaan dongeng oleh relawan Rumah Baca Andalusia Manukan Kulon, Surabaya. Anak-anak terlihat antusias melihat mimik, celoteh dan ekspresi pendongeng.

Andalusia… Di kota itu, terdapat perpustakaan terbesar didunia abad itu. Buku-buku sains, syair dan buku-buku kajian keislaman, tergurat di kota tersebut. Ya… Islam merupakan agama yang sangat mendukung dunia literasi. Hampir disetiap wilayah kekuasaannya, dipastikan ada perpustakaan sebagai tempat para pemuda, ulama dan umara belajar, mengkaji dan menghasilkan karya-karya fenomenal. Dan Salah satu perpustakaan terbesar itu, didirikan Daulah Bani Umayyah II, di Andalusia

Terinspirasi sejarah itu, Bersama istri tercinta, Kami coba berkontribusi dalam dunia literasi dengan mendirikan Rumah Baca Andalusia. Mimpi itu kami guratkan dalam suatu target bahwa akhir 2018, akan berdiri 40 Rumah Baca Andalusia di berbagai daerah. Ambisius mungkin, mengingat kami pun ’pemain baru’ dalam dunia literasi. Tapi, kami coba berjalan dengan tekad itu. Menghimpun dana dari dermawan, mencari relawan yang bersedia ‘menghibahkan’ waktunya untuk membangun dan mengelola secara mandiri rumah baca, kami jalani setahap demi setahap. Memulai rencana itu sejak November 2016, Alhamdulillah semua karena Allah SWT, kini telah berdiri 9 (Sembilan) Rumah Baca Andalusia, dengan konsep mendirikan rumah baca baru dan supporting rumah baca yang telah lama mati. Berawal dari Surabaya tempat kami ditugaskan untuk melanjutkan study (kini telah berkembang menjadi 2 rumah baca), berlanjut ke Bekasi, Pandeglang, Samarinda, Rembang, Lampung, Depok dan Subang

Kenapa rumah baca? Kami sedih dengan diri kami… minat baca kami sangat rendah. Kami lebih suka membaca medsos, berita-berita online dan sebagainya. Sedangkan buku, mungkin hanya 1 buku dalam satu tahun. Kepiluan ini tidak boleh lestari kepada anak-anak kami, anak-anak lingkungan kami, anak-anak Indonesia. Mereka harus disediakan sarana membaca yang representatif. Mereka butuh memiliki alternatif mengisi waktu selain bermain dan bermain gadget. Dan rumah baca andalusia hadir untuk mengisi ruang-ruang kosong itu.

Memang disadari. Membangun minat baca bukan hal mudah bagi kami yang awam ini. Prinsip kami hanya satu. Saat anak-anak memiliki keinginan untuk membaca, maka mereka tahu harus datang kemana. Saat anak-anak membutuhkan ruang untuk mengisi waktu luangnya secara positif, mereka tahu akan berkunjung kemana. Rumah baca sebagai alternatif pilihan mengisi waktu, secara perlahan akan mengikis waktu-waktu luang yang mungkin akan terisi dengan hal-hal negatif.

Kini. Tugas kami menjaga agar semangat mengembangkan rumah baca para relawan terus bergelora. Dalam sela-sela waktu yang ada, kami coba mendaftarkan beberapa rumah baca pada komunitas-komunitas buku, menawarkan proposal kepada penerbit dan hal-hal lain untuk mendapatkan donasi buku. Selain itu, dalam momentum-momentum tertentu, kami pun mencari donasi dari dermawan, untuk menghelat aktivitas positif buat ibu dan anak.

Fokus Rumah Baca Andalusia memang anak, remaja dan ibu. Karena dalam pemikiran kami, rendahnya minat baca hanya bisa dilakukan dengan ’potong generasi’. Tinggalkan dewasa dan orang tua yang pasti akan sangat sulit diajak mencintai buku dan membaca, fokuslah pada anak-anak, remaja dan ibu. Mengapa? Karena minat baca hanya bisa dibangun dari usia dini dan remaja. Sedangkan kaum ibu menjadi target karena merekalah yang menjadi lokomotif utama dalam meningkatkan minat baca-anak-anak mereka.

Tentu kontribusi ini jauh dan jauh sekali dari cita-cita mulia ”Indonesia, Berdaya, Berguna, Dengan Membaca”

Pastinya… sudah sangat banyak sekali individu maupun komunitas yang berkontribusi lebih besar dan lebih nyata. Sedangkan kami disini, hanya mencoba menaburkan pasir dijalan literasi yang penuh oli hitam ini. Kami mencoba menaburkan debu agar ’Becak-becak” Literasi ini tidak terpeleset mencapai tujuannya. Kami siap jadi alas kaki agar seluruh pecinta literasi mampu membumi dan perlahan mengangkasa. Kami siap jadi kerikil yang mengisi kubangan-kubangan lumpur dijalan agar tidak ada yang terperosok. Kami siap jadi apapun, agar bangsa ini bangkit dengan membaca

Semangat ini terus bergelora, karena di ujung Kabupaten Subang sana, relawan kami, Kang Yayat, yang terbatas dana bahkan untuk sekedar mengisi pulsa, terus bergerak menghindari adik-adik dan anak-anak lainnya dari pengaruh negatif narkoba, free sex dan lainnya. Dengan meminjam halaman rumah penduduk, Rumah Baca Anak Desa Kab.Subang, mencoba melawan arus globalisasi yang dampak negatifnya sangat rentan melibas generasi muda. Bahagia kami saat menerima SMS darinya, walau 2-3 bulan sekali, tentang aktivitas-aktivitasnya, tentang kiriman-kiriman buku yang kami carikan, tentang keriangan-anak-anak yang dibinanya. Kami menafsirkan dari SMS yang dikirimkannya.

Semangat kami juga dari relawan Bekasi, yang rutin mengirimkan foto rumah bacanya yang sesak dengan anak-anak, dengan lomba-lomba sederhana, dengan suara-suara hafalan quran dan lantunan tilawah anak-anak. Ya, selain menjadi rumah baca, relawan kami juga tetap melestarikan Rumah Tahfidz yang telah lama dikelolanya.

Semangat Kami juga ada di Surabaya yang terus bersama-sama menggandeng para bunda untuk mengajarkan cinta membaca pada anak-anaknya. Semangat kami juga ada di Lampung, Depok, Rembang, Pandeglang, hingga  Samarinda. Karena kisah kecil ini, sangat diharap jadi jariyah yang akan menyelamatkan kita semua.

Ampun kami padamu ya Rabb, karena kami menulis kisah ini yang mungkin terselip kebanggaan, terangguk bisikan-bisikan setan, tersembunyi riya dan sum’ah. Ampun kami pada pemilik seluruh kehidupan. Kami hanya ingin menyebarkan optimisme, saling menyemangati, berbagi kisah kecil ini. Jika ini bermanfaat, maka biarlah ini jadi catatan mulia relawan kami. Karena kami hanya ’berpura-pura’ berkontribusi. Padahal, hanya menangkap sepi, sunyi, lalu mati

 

Salam Semangat Literasi dari Kami

Fajar Sidik – Cik Maryanti

Di Basecamp, Rumah Baca Andalusia, Bumi Allah

Leave a Comment