Posted on: May 5, 2020 Posted by: Faik Comments: 0

Tepat pukul 20.00 WIB, ku langkahkan kaki ini menaiki opelet abu-abu menuju perempatan by pass kali balok. Dengan mendengarkan segala keluh kesah supir dan gelak tawa penumpang, perjalananku berakhir disebuah ruko anyar. Anyar karena aku sudah lama meninggalkan kota kelahiran ini. Mungkin bagi orang lain, sangat lama. Yaahhh… itu hanya sedikit perbedaan persepsi saja.

Dengan sedikit menyebrangi jalan, langkahku kuhentikan di atas pasir berdebu. Sejenak kemudian, pria muda menawarkan naik avanza miliknya kepada ku. ”bakau mas,” begitu sapanya. Dengan sedikit angkuh, ku tolak tawaran itu. Walau hati kecilku, menghujat keputusan ini. Maklumlah, aku sudah sadar bahwa kendaraan beroda besar dilarang melewati jalur ’biasa’ menuju pelabuhan bakauheni. Alasannya masih sama, tanah longsor. Sungguh menyebalkan sekali. Seperti tidak ada pemerintahs aja disana.

sejenak kemudian, nekat aku langkahkan kaki ini menuju puspa jaya, sebuah bus yang menyimbolkan dirinya dengan warna hijau. Beberapa saat, perjalanan cukup tenang dan menyenangkan. Namun, sampai pertigaan gayam, sebuah daerah di lampung selatan, tidurku terhentak oleh suara kondektur goda daki. Dia mengumpat pengalihan jalur yang jelas akan menambah jarak, menghabiskan bensin dan lebih lama. Meski demikian, aku coba untuk terus tenang, bukan karena kemampuan mengontrol diri, tapi lebih kepada rasa kantuk yang masih terus hinggap.

Medan berlubang, berdebu dan kegelapan menjadi sahabat perjalanan aku berikutnya. Kali ini, kantuk yang emnggelayut dimataku telah lompat. Mungkin terpental saat bus melewati lubang berdiameter satu meter diujung jalan tadi. Fiuuuhhh, nafasku menghela lepas. Mencoba menikmati perjalanan yang kurang asyik ini.

Nyaris setengah jam berikutnya, laju roda tua ini berhenti. Seluruh penumpang bersorak kompak, “macet panjang,” keluh mereka. Meski mencoba terus untuk bertahan, rupanya tidak kuat juga hanya berdiam menunggu ketidakpastian. Akhirnya, ku paksakan mengangkat tubuh ini lalu aku melaju bersama ojex gaul melewati ratusan mesin besar yang diam membisu.

Kekesalanku berakhir di depan loket antrian kapal penyeberangan. Semangat ku menggelora kembali. Maklumlah, saat itu pukul 01.30 WIB yang berarti sesaat lagi aka nada pertandingan mega akbar piala dunia Netherland VS Andalusia. Di besi terapung tersebut, aku menikmati perjalanan. Berteriak, mengumpat dan berkoar tidak karuan mengiringi pertandingan itu. Hingga akhirnya kebahagiaanku tumpah ruah. Tim Andalusia, favoritku, berhasil menang dengan tragis.

Langkah ini aku teruskan hingga depan kantor, lalu handkey agar tidak dipotong. Biasanya aku langsung saja jalan kaki menuju kost. Tapi kali ini, aku mengunjungi ruang kerja untuk meminjam sepeda motor milik seorang sahabat. Mungkin ini takdir Illahi. Didepan mulut gang alamat kost aku, motorku mencium tembok… gubraaakkkk… ehm, dengan senyum, ku rapikan serpihan motor yang tercecer lalu tetap semangat menuju kost. Tapi entah kenapa, kejadian tragis pagi itu, tidak membuat aku mengumpat dan menyesal. Kekalutannya tertutupi dengan senyum manis yang aku lihat malam sebelumnya. Senyum sang bidadari nan mempesona… ehm, semoga saja senyum itu menjadi milikku selamanya… sungguh nikmat yang mampu  menutupi sengsara.

Ditulis : Tahun 2009

Leave a Comment