Tiba di bumi serambi, apa yang Aku cari? Cerita dhuafa yang lirih berduka, atau anak-anak yatim yang menyendiri nelangsa? Apa peran kita, sekedar menutup luka, yang telah lama menganga!
Kisah tsunami kelam menghujam bumi. Satu dua insan selamat, tapi lebih banyak menjadi mayat. mereka yang selamat pun, harus hidup rukun, dalam kesengsaraan tanpa ampun
Di ujung jalan, anak-anak yatim melanjutkan pilu, kisahnya kelu, mengingat keluarga mereka mati tersapu, gelombang dahsyat yang datang tak memberitahu.
Di pojok rumah-rumah, ada keluarga menghamba nafkah, sambil mengenang sang ayah, yang lama terlumat tanah.
Lalu, apa kisah diri di sini? Yang sejatinya, hanya menanti mati?
Akankah tanpa kisah, pasrah tak mampu berbenah?
Ataukah mencoba berbuat, dengan semangat menyemburat, mengukir manfaat di akhir hayat?
Itulah sekelumit pertarungan hati saat pertama menginjakkan kaki di negeri serambi. Pergulatan hati yang lama membatin, nyaris beku terbunuh dingin. Tapi, dengan dorongan banyak pihak dan sambutan mulia dari para pencari surga di Aceh, demikian aku menyebutnya, setapak demi setapak mulai beranjak. Memulai dengan satu kesepakatan awal, mencoba memberi manfaat melalui amal, yang mungkin tidak fenomenal, sekedar berkontribusi walau hanya sejengkal.
SaKA yang berakronim Sahabat Kemenkeu Aceh, menjadi sosial pegawai Kemenkeu Aceh dalam menebar manfaat. Seluruh pegawai lintas eselon, berhimpun dalam rumah SaKA, berdonasi melalui ’kotak amal’ yang sama, menyingsingkan perbedaan tugas dan fungsi dalam bidang pengelolaan keuangan negara. Tujuan kami sama, membuat masyarakat Aceh bahagia. Kehadiran Kemenkeu Aceh, memberi manfaat yang bereh that (baik).
SaKA dalam bahasa Aceh berarti gula. SaKA menjadi wahana berhimpun bagi seluruh pegawai kemenkeu di Aceh untuk memberikan manfaat bagi sesama. Bersama dengan rekan-rekan di DJP, DJBC, DJKN, dan GKN, SaKA pertama kali dilaunching pada hari jumat 2 Agustus 2019 lalu. Dengan menghadirkan seluruh Kepala Kanwil dan pimpinan unit eselon III lintas unit, agenda yang dilaksanakan pada Pondok Yatim Tahfidz An-Nur tersebut berjalan dengan khidmat. Dalam agenda tersebut, turut disalurkan sedekah Sembako keperluan santri tahfidz dan wakaf quran yang merupakan donasi dari SaKA dan donatur lain se-Indonesia.
SaKA sejatinya hanya menghimpun kebaikan-kebaikan yang tercecer. Setiap unit Kemenkeu di Aceh infiradhi menebar kebaikan dengan bendera masing-masing. Sehingga, dampak bagi citra positif Kemenkeu kurang terdorong lebih optimal. Bukankah kita semua pegawai Kemenkeu? Itulah yang kemudian menyatukan kami lintas eselon untuk menyatukan gerak, memberi manfaat lebih besar, lebih luas, lebih optimal.
Beberapa bulan dilalui, agenda SaKA yang berjalan rutin diantaranya pembagian sarapan (nasi bungkus) gratis pada tiga tempat yakni Rumah Sakit umum Daerah Zainoel Abidin Banda Aceh, Masjid Tgk cik Ditiro GKN Banda Aceh dan Warung Magnet Rezeki Kuta Alam.
Tidak lelah memberi manfaat, SaKA juga turut menjadi donatur rutin kebutuhan sembako Rumah Singgah Blood For Life Foundation (BFLF) Banda Aceh. Rumah yang diperuntukkan bagi keluarga pasien rumah sakit dengan fasilitas yang lengkap dan GRATIS tentunya. Pada kesempatan yang sama turut memberikan donasi 46 botol susu BRR (susu khusus bayi prematur bocor jantung) kepada bayi ibunda husna dhuafa asal Bireun. Semua dilakukan agar SaKA setia menjadi sahabat dhuafa.
Manfaat juga kami coba tebar hingga aceh selatan, meulaboh, dan kutacane dengan sedekah beras bagi pondok-pondok tahfidz setempat. Semua elemen terlibat baik KPP, KPPN, KPBC, maupun KPKNL. Karena sinergi membangun negeri juga harus dijewantahkan dalam sinergi berkontribusi sosial.
Momentum idul qurban yang lalu, tidak lepas dari bidikan SaKA. Mendukung program Go-Green yang dicanangkan Menteri Keuangan, SaKA turut membagi 10.000 kantong plastik degradable pada masjid/dayah/sekolah se Aceh. Ini semua pun semata-mata dilakukan agar keberadaan Kemenkeu di Aceh, memberi manfaat positif bagi warganya. Karena Kemenkeu tanpa kisah sosial, hambar rasanya.
Bahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan keteladanan dengan membangun SMP 2 Meredu di Kabupaten Pidie yang terkena gempa. Keteladanan itu menjadi tambahan semangat bagi SaKA untuk terus berkontribusi sosial. Bahkan Dirjen Perbendaharaan Andin Hadiyanto, mengapresiasi positif aktivitas sosial lintas unit tersebut dalam arahannya pada acara Rakorwil Aceh di sabang beberapa waktu lalu.
Lalu, adakah alasan SaKA untuk berhenti? Sedangkan doa-doa mustad’afin melangit mengetuk arsy? Sedangkan dukungan pimpinan organisasi nyata menyertai? Sedangkan tangisan-tangisan dhuafa masih lirih sayup terdengar? Sampai kapan SaKA akan setia? Mari bersepakat menjawabnya, ”Sampai surga menyapa. Insya Allah!”
Saat pandemi covid-19 saat ini, bekerjasama dengan Dompet Dhuafa Aceh, Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Aceh, Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh dan lembaga lainnya, mencoba memberikan kontribusi dengan melaunching dua program yakni Program Desinfektan Masjid/Fasum dan Program Bantuan Pangan Dhuafa. ALhamdulillah program tersebut berjalan dengan baik dengan titik desinfektan mencapai 57 lokasi dan menyalurkan 164 paket pada dhuafa (Ojol, petugas parkir/kebersihan, PKL dan lainnya).
Apa cita-cita SaKA selanjutnya. Menebar Qur’an seantero nusantara, menambah jumlah anak asuh dhuafa/yatim piatu (saat ini SaKA telah memiliki 16 anak asuh santri tahfidz dhuafa/yatim di Banda Aceh, Aceh Besar, Lhokseumawe dan Meulaboh), memberi makan semakin banyak orang, menyediakan buka puasa, mendirikan rumah singgah bagi sesama, meringankan beban nestapa mereka yang berduka. Kebaikan berbagi dengan sedekah, Zakat, maupun Wakaf, akan terus dilestarikan untuk menolong sesama.
Jika kalian tak menemui aku di arena olah raga, tidak juga di warung-warung kopi. Bisa jadi aku sedang bersama dhuafa, atau berdiam merangkai agenda membantu sesama, atau mengiba harap Tuhan yang Esa, atau bersama keluarga yang aku cinta. Aku yang telah memilih jalan ghuroba, yang jauh dari hiruk pikuk kesenangan dunia. Memang sunyi sekali, karena jarang yang akan melalui. Aku hanya mencoba menapaki, setapak demi setapak, sambil menunggu habis usia. Istiqomahkan kami ya rabb.
“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”